Berita & Artikel

oleh Daikin Indonesia 27 Januari 2026
Bekerjasama dengan Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Bandung, DAIKIN menyelenggarakan Upskilling dan Reskilling Guru SMK Ketenagalistrikan se-Jawa Barat sepanjang tiga hari yang dimulai 27 Januari lalu. Bertempat di workshop refrigerasi BBPVP Bandung, sejumlah 19 guru yang berasal dari berbagai SMK di area Jawa Barat dan 6 instruktur dari BBPVP Bandung menjadi peserta. Materi pelatihan mencakup Basic Airconditioning, Basic P-h & Psychrometric Chart, serta RA Inverter Troubleshooting. Penyampaian materi menjadi kombinasi antara pembentukan pemahaman konseptual kuat sekaligus keterampilan aplikatif melalui metode pembelajaran terpadu antara teori dan praktik langsung di lingkungan workshop. Pelatihan ini merupakan wujud nyata komitmen keberlanjutan DAIKIN untuk terus meningkatkan kompetensi tenaga pengajar vokasi terkait tata udara dan refrigerasi di Indonesia. Kegiatan serupa sebelumnya telah berjalan sepanjang tahun 2025. Dengan membawa materi terkait VRV yang menjadi solusi tata udara bagi bangunan komersial, DAIKIN menyambangi berbagai daerah di Indonesia untuk memberi pelatihan pada guru SMK bidang studi terkait. Sementara pilihan materi pelatihan yang pada penyelenggaraan kali ini lebih berfokus pada dasar-dasar AC untuk hunian dan teknologi inverter, dipilih berdasarkan umpan balik dari peserta penyelenggaraan tahun sebelumnya. Dengan perkembangan teknologi, mengulang kembali sekaligus mendapat pemutakhiran terkait dasar AC dan teknologi inverter dipandang tetap menjadi kebutuhan para tenaga pendidik vokasi terkait. Terlebih bila menimbang, tak seluruh tenaga pendidik vokasi memiliki latar belakang pendidikan terkait tata udara dan refrigerasi. Dengan pertimbangan ini pulalah, DAIKIN berkomitmen akan melanjutkan menghelat pelatihan yang sama bagi guru SMK di berbagai daerah di Indonesia sepanjang tahun ini. Sejalan dengan harapan besarnya, mendukung pemantapan kompetensi tenaga pendidik bagi terciptanya generasi lulusan SMK yang kompeten dan adaptif untuk memasuki dunia industri.
oleh Daikin Indonesia 27 Januari 2026
Kembali menunjukkan komitmen besarnya bersinergi dengan pemerintah dalam pengembangan sumber daya manusia, khususnya sektor perangkat pendingin dan tata udara, DAIKIN menyelenggarakan program Upskilling Instruktur Balai Latihan Kerja (BLK). Kegiatan ini berlangsung di workshop refrigerasi Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Bekasi pada 27 Januari lalu. Berlangsung secara hibrid, kegiatan ini diikuti langsung instruktur PPKPI, PPKD, BLK Bogor, BLK Karawang dan BLK Popinsi Jawa Barat serta diikuti secara daring oleh instruktur BLK dari seluruh Indonesia. Kegiatan ini pun mendapat dukungan Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi Provinsi DKI Jakarta yang perwakilannya turut hadir dalam penyelenggaraan. Lebih dalam terkait materi dalam program, dirancang untuk memperkuat pemahaman instruktur BLK, tak hanya calon teknisi pemula, tetapi juga pemutakhiran wawasan bagi teknisi senior. Dengan pertimbangan para instruktur sebelumnya telah mendapatkan pelatihan VRV Service Troubleshooting dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), dalam program ini, DAIKIN menghadirkan materi lanjutan lebih aplikatif dan relevan dengan kebutuhan industri saat ini termasuk didalamnya Heat Load Calculation dan Ducting Design. Melalui program ini, Daikin berharap kegiatan ini dapat menjadi pengayaan materi HVAC bagi para instruktur BLK seiring upaya untuk mencetak tenaga kerja HVAC yang kompeten, adaptif, dan siap menghadapi tantangan industri di masa depan.
oleh Daikin Indonesia 23 Januari 2026
DAIKIN melalui cabangnya di Pekanbaru menyelenggarakan DAIKIN Designer Gathering pada 23 Januari lalu. Dengan sejumlah 51 arsitek anggota Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Riau hadir menjadi peserta, kegiatan ini menjadi upaya perusahaan sebagai penyedia solusi tata udara inovatif dalam mempererat kolaborasi dengan arsitek setempat. Dalam penyelenggaraannya, perusahaan sekaligus memperkenalkan AC Home Central DAIKIN. Hadir sebagai solusi tata udara premium bagi hunian dan bangunan light commercial modern, AC Home Central DAIKIN tak hanya mengedepankan performa namun juga unsur estetika. Keunggulan yang membuatnya menjadi solusi arsitek dalam menciptakan desain bangunan modern sekaligus memberi perhatian pada tata udara didalamnya. Disatu sisi, hal ini hadir melalui kepraktisan pada penempatan dan perawatan yang dapat mengoperasikan beberapa unit indoor dengan hanya tersambung pada satu unit outdoor. Sementara disisi lain, AC Home Central DAIKIN pun memiliki ragam pilihan desain unit indoor yang dapat membaur pada ruang dan meningkatkan estetika keseluruhan ruang. Perkenalan ini disertai sharing session dari Dreamlabs Architects dan berbagai contoh implementasi. Inilah yang kemudian membuat sesi ini mendapat respons sangat positif, khususnya terkait fleksibilitas penggabungan AC dengan konsep desain yang estetik dan terintegrasi. Dalam kesempatan yang sama, DAIKIN juga memperkenalkan lini AC Nusantara Prestige sebagai solusi tata udara bagi hunian dan sistem VRV 6A & 6X sebagai solusi tata udara bagi bangunan komersial.
oleh Daikin Indonesia 21 Januari 2026
Kebutuhan pendinginan ideal di ruangan iklim tropis bisa mencapai 600-700 BTU per meter persegi, jauh di atas patokan negara beriklim lebih sejuk. Sementara itu, pemilik hunian masih menentukan ukuran PK AC hanya dari luas ruangan, padahal langkah ini tidak relevan lagi. Hal ini juga yang sering jadi alasan AC lama terasa dingin, sementara AC baru dengan PK sama justru mengecewakan. Padahal masalahnya belum tentu pada unitnya, tapi cara menghitung PK yang belum tepat. Sebelum menyalahkan merek atau teknologi, ada baiknya pahami dulu bagaimana menghitung ukuran PK AC yang akurat dengan memahami karakter ruangan. PK Itu Apa Sebenarnya? Banyak orang mengira PK berkaitan dengan listrik yang AC gunakan. Padahal PK adalah ukuran seberapa besar kemampuan AC memindahkan panas dari ruangan. Jadi ini bicara kapasitas pendinginan, bukan konsumsi daya. Untuk memahaminya lebih jelas, simak peta konversi PK ke BTU berikut, di mana BTU/h adalah satuan teknis kapasitas dingin yang sebenarnya. Kenapa Tabel “PK vs Luas Ruangan” Sering Mengecoh? Pemilik rumah yang hendak membeli AC sering mencari patokan PK AC untuk kamar lewat tabel luas ruangan. Cara ini memang praktis dan tampak meyakinkan, tapi bisa menyesatkan. Hal ini terjadi karena luas ruangan hanya satu variabel, padahal ada faktor lain yang perlu pertimbangan lain ketika Anda membeli AC. Heat load atau seberapa panas yang masuk dan terperangkap di dalam ruang adalah faktor lain yang sangat menentukan itu. Dua kamar 12 m², misalnya, bisa butuh PK berbeda. Satu menghadap timur, teduh, jarang kena matahari. Satu lagi menghadap barat, jendela besar, kena panas sore langsung. Pada kondisi seperti ini, kebutuhan BTU bahkan perlu dinaikkan 10–25% dari hitungan standar. Belum lagi faktor plafon tinggi, jumlah orang, perangkat elektronik, dan ventilasi. Semua menyumbang panas. Jadi ketika AC terasa “kurang dingin”, sering kali masalahnya bukan di unit, tapi di cara Anda menghitungnya sejak awal. Cara Menghitung PK AC yang Lebih Masuk Akal Kalau ingin hasil yang lebih presisi daripada sekadar melihat tabel ukuran PK AC, Anda perlu sedikit mengubah cara berpikir. Bukan lagi bertanya, “Ruangan saya berapa meter?”, tapi, “Ruangan ini menyimpan panas sebanyak apa?” agar pendekatan cara menghitung BTU AC lebih relevan. Langkah pertama tetap hitung luas ruangan (m²). Lalu kalikan dengan patokan kebutuhan 600–700 BTU/m² untuk iklim tropis. Ini jadi angka dasar kebutuhan BTU per meter persegi, tapi jangan berhenti di sini. Koreksi volume udara. Banyak perhitungan lama mengasumsikan plafon sekitar 2,4 meter. Kalau plafon di rumah Anda setinggi 3 meter, volume udara naik signifikan. Dalam praktik HVAC, kondisi ini wajar dikoreksi sekitar +25% dari kebutuhan BTU awal, karena AC harus “mengendalikan” udara yang lebih banyak. Kemudian, baca pola panas dari aktivitas ruangan. Kalau di dalamnya ada PC, double monitor, TV besar, konsol game, atau perangkat elektronik yang aktif berjam-jam, kebutuhan pendinginan realistisnya perlu ditambah 10–20%. Setiap peralatan elektronik mengeluarkan panas, sehingga perlu masuk hitungan juga. Terakhir, jangan lupakan manusia. Setiap orang yang rutin berada di ruangan menyumbang panas tubuh. Tambahkan sekitar +600 BTU per orang untuk pemakaian harian. Apabila Anda menggabungkan semua faktor ini, barula angka PK yang muncul terasa logis. Tinggi Plafon & Volume Udara: Faktor yang Sering Terlupa Banyak orang bertanya, AC 1/2 PK untuk ruangan berapa, lalu berhenti di angka luas lantai. Padahal AC tidak mendinginkan lantai, tapi mengendalikan udara di dalam ruang. Udara, di sisi lain punya volume. Plafon setinggi 3 meter sudah jadi hal yang umum dan ideal di rumah tinggal Indonesia. Ketinggian ini menyesuaikan iklim tropis yang panas agar sirkulasi udara lebih baik. Namun ketika ketinggiannya naik ke 3,5 meter, volume udara bertambah sekitar 16,7% meski luas ruangan sama. [5] Artinya, beban pendinginan ikut naik tanpa terlihat di tabel mana pun. Maka dari itu, penting untuk menyadari kalau ada perbedaan yang perlu Anda pikirkan sebelum menentukan PK untuk ruangan di rumah Anda. Semakin tinggi ruang, maka AC juga harus mengendalikan semakin banyak udara. Mengabaikan faktor ini, di sisi lain, bisa membuat AC lama dingin meski di atas kertas PK terlihat cukup. Apa yang Terjadi jika Salah Pilih PK? Sering muncul pertanyaan AC 1 PK untuk ruangan berapa, tapi jarang membayangkan konsekuensi apabila hitungannya meleset. Saat PK kekecilan, kompresor harus bekerja hampir tanpa jeda. Listrik naik, suara mesin lebih sering terdengar, dan ruangan terasa “hampir dingin” tapi tidak pernah benar-benar nyaman. Sebaliknya, PK kebesaran juga bukan solusi. Ruangan memang cepat dingin, lalu AC cepat mati. Siklus hidup-mati ini disebut short cycling, yang justru bisa meningkatkan konsumsi energi hingga 20–50%. Selain itu, udara belum sempat kehilangan kelembapannya. Pada akhirnya, udara memang dingin tapi tetap lembap dan lengket, bahkan tidak nyaman di kulit. Saatnya Memilih PK dengan Cara yang Lebih Cerdas Kenyamanan ruangan bukan hanya area yang luas, tapi juga seberapa besar panas yang benar-benar terakumulasi di dalamnya. Salah menghitung ukuran PK AC membuat unit terasa “tidak enak”: entah kurang dingin, lembap, atau justru boros tanpa terasa. Oleh karena itu, pendekatan paling aman bukan lagi menebak, tapi menilai karakter ruang secara utuh. AC untuk hunian dari Daikin adalah solusi relevan, dengan teknologi yang stabil mengikuti kebutuhan ruangan rumah tinggal di Indonesia. Hubungi kami untuk rekomendasi ukuran PK AC yang tepat untuk ruangan Anda atau kunjungi halaman DAIKIN Inverter Calculator . Nikmati kenyamanan maksimal di mana pun Anda berada bersama DAIKIN!
oleh Daikin Indonesia 20 Januari 2026
Banyak orang baru mencari tahu fungsi Mode Dry pada AC saat merasa ruangan tetap gerah meski suhu sudah rendah—atau AC terasa dingin tapi badan masih lengket dan tidak nyaman. Bisa jadi masalahnya bukan di angka derajat, melainkan di kelembapan udara yang terlalu tinggi. Dalam kondisi ini, menurunkan suhu terus-menerus sering tidak menyelesaikan rasa gerah. Anda perlu Mode Dry. Tapi kenapa fitur ini bisa mengubah feel ruang secara signifikan? Temukan jawabannya di artikel ini. Fungsi Mode Dry pada AC: Apakah Hanya Lebih Dingin? Mode Dry AC pada dasarnya bekerja seperti dehumidifier ringan. Fokusnya bukan menurunkan suhu secepat mungkin, melainkan mengurangi kadar uap air di udara. Pasalnya humidity level tinggilah yang sering kali bikin gerah. Saat kelembapan berhasil diturunkan, tubuh lebih mudah “melepas panas”, sehingga ruangan terasa lebih nyaman walau suhu tidak berubah banyak. Mudahnya, kelembapan ruangan ideal AC untuk kenyamanan biasanya ada di kisaran 40–60% RH. Mode Dry membantu mendekati rentang ini dengan pola kerja kompresor dan kipas yang lebih kalem. Jadi, Anda tidak perlu memaksa suhu turun terus. Cukup turunkan lembapnya, maka efek nyaman biasanya langsung terasa. Dry vs Cool: Beda Tujuan, Beda Rasa Nyamannya Mode Cool itu sederhana: targetnya menurunkan suhu ruangan, sehingga kompresor bekerja untuk mengejar angka derajat yang Anda set. Sementara fungsi dehumidify pada AC di Mode Dry lebih fokus “menjinakkan” kelembapan. Selain menurunkan panas, rasa lengket yang membuat gerah juga berkurang. Ini juga jadi angle yang sering luput. Dua ruangan dengan suhu sama bisa terasa jauh beda kalau humidity level-nya beda. Saat kelembapan turun sekitar 10%, misalnya dari 70% ke 60%, maka ruangan biasanya terasa seperti 1–3°C lebih sejuk dalam sensasi tubuh, terutama saat awalnya panas dan lembap. Oleh karena itu, Dry sering terasa lebih nyaman meski angka suhu di remote tidak banyak berubah. Apabila Cool cocok untuk butuh cepat dingin, maka Dry adalah pilihan ideal tanpa harus terus-menerus mengejar suhu dingin. Kapan Mode Dry jadi Pilihan yang Lebih Masuk Akal? Tinggal di negara tropis seperti Indonesia membuat kita familier dengan udara yang lembap, bahkan udara lembap adalah default. Rata-rata kelembapan ada di kisaran 70-90% sepanjang tahun. Hal ini juga yang bikin Anda sering merasa “lengket” meski suhu sebenarnya tidak terlalu tinggi. Kondisi ini semakin menekankan bahwa paham kapan pakai Mode Dry jadi penting. Secara umum, mode ini menguntungkan saat: Sedang musim hujan, sehingga udara sering berat dan pengap di dalam ruangan. Pagi dan sore yang lembap, apalagi jika kamar atau ruangan jarang terkena matahari. Minim ventilasi di dalam ruangan atau ruangan tertutup terlalu lama. Kondisi ini bisa menyimpan uap air lebih banyak daripada panas. Menurunkan suhu jadi bukan tujuan utama di situasi ini. Justru, Anda perlu menurunkan kelembapan sesegera mungkin agar rasa di ruangan terasa lebih baik. Mode Dry, di sisi lain, bantu udara terasa ringan dan tidak sumpek. Tubuh juga jadi lebih nyaman tanpa harus memaksa suhu terlalu rendah. Mode Dry Hemat Listrik? Ini Mitos vs Faktanya Mitos yang paling sering beredar adalah Mode Dry selalu lebih hemat daripada Cool. Padahal, itu tergantung kondisi ruangan dan target kenyamanan Anda. Apabila udara sedang lembap tapi suhunya tidak terlalu tinggi, maka Mode Dry bisa memangkas jam kerja kompresor. Siklus kerjanya juga lebih intermittent, sehingga pemakaian listrik jadi lebih ringan. Dalam kondisi seperti ini, penghematan konsumsi daya biasanya ada di kisaran 15–30% daripada Mode Cool. Tapi kalau ruangan sangat panas, Mode Dry justru bisa kurang efektif, sehingga Anda harus menyalakan AC lebih lama. Dalam kondisi ini, Cool lebih make sense. Lebih dari apa pun, memahami perbedaan Mode Dry dan Cool jadi kunci sebelum percaya klaim dry mode hemat listrik. Aman Dipakai Lama, Selama Kondisinya Tepat Mode Dry aman dipakai cukup lama kalau ruangan memang lembap. Kelembapan turun ke level nyaman tanpa membuat suhu terlalu rendah. Tapi masalah baru akan muncul kalau udara sudah cenderung kering sementara Anda masih menyalakan mode ini selama berjam-jam. Lalu apa efek negatif AC Mode Dry? Beberapa di antaranya adalah: Bibir jadi mudah kering hingga pecah-pecah Hidung terasa sering gatal, bahkan perih Ruangan terasa terlalu kering seperti statis, bahkan bikin kulit wajah terasa ketarik. Tenggorokan kering Perlu Anda ingat bahwa bukan modenya yang jahat karena efek negatif akan muncul apabila pemakaiannya tidak sesuai dengan kondisi. Pakai Mode Dry di Saat yang Tepat Kenyamanan di dalam ruangan bukan sekarad menurunkan suhu. Mode Dry menunjukkan bagaimana kelembapan memegang peran besar dalam rasa nyaman sehari-hari, meksi fitur ini sering terabaikan karena kurangnya pemahaman. Oleh karena itu, memahami fungsi Mode Dry pada AC akan membuat Anda sadar bahwa fitur ini adalah bagian dari memakai AC dengan benar di iklim tropis. Kualitas jadi poin prioritas. AC untuk residensial dari Daikin dirancang dengan kontrol kelembapan dan pengaturan udara yang presisi, sehingga Mode Dry benar-benar bekerja sesuai fungsinya, bukan sekadar simbol di remote. Kalau Anda ingin ruangan terasa nyaman tanpa harus terus menurunkan suhu, ini saatnya memilih unit yang memang dirancang untuk itu. Hubungi kami sekarang dan dapatkan rekomendasi AC Daikin yang paling sesuai dengan kebutuhan rumah Anda.
oleh Daikin Indonesia 19 Januari 2026
Membahas jenis freon AC jarang masuk daftar pertimbangan saat orang memilih pendingin ruangan. Sebagian besar sibuk melihat PK, inverter, dan watt, tapi hampir tak pernah menanyakan tipe refrigeran AC di dalamnya. Padahal, di situlah dingin, efisiensi listrik, dan umur pakai unit banyak ditentukan. Artikel ini mengajak Anda melihat sisi yang sering terlewat, sebelum keputusan kecil berdampak besar di kemudian hari. Apa Itu Freon Sebenarnya? Pengguna AC mungkin membayangkan freon sebagai gas dingin yang meniupkan kesejukan ke ruangan. Padahal perannya justru sebaliknya. Freon adalah media perpindahan panas. Ia menyerap panas dari udara dalam ruangan, lalu membawanya keluar lewat siklus kompresi dan kondensasi. Saat bekerja, refrigeran menguap pada suhu sangat rendah, umumnya di kisaran 4–10°C pada AC rumah. [1] Ini adalah titik di mana panas ruangan diserap. Peran ini sangat krusial, sehingga perkembangan teknologi membuat lahir pilihan freon ramah lingkungan yang tetap efisien tanpa membebani alam. Jadi, memahami freon berarti memahami cara AC sebenarnya menciptakan rasa sejuk. R22, R410A, R32: Tiga Generasi Freon yang Beda Karakter Pada AC rumah tanggal, Anda paling sering bertemu tiga nama ini: R22, R410A, dan R32. Perbedaan kode ini juga memengaruhi rasa dingin dan konsumsi listrik. Dalam perbandingan R22 vs R410A, R410A bekerja pada tekanan sekitar 50–70% lebih tinggi. Artinya, perpindahan panas lebih cepat, pipa lebih tebal, dan sistem lebih kuat. Lalu muncul pertanyaan umum, apakah freon R32 dan R410 sama? Tidak. Freon R32 bisa bekerja di tekanan yang relatif mirip dengan R410A, bahkan dalam beberapa kondisi bisa mencapai 1,6 kali tekanannya. Dengan kapasitas pendinginan volumetrik sekitar 160% lebih tinggi, R32 membutuhkan isi refrigerant lebih sedikit untuk menghasilkan performa dingin yang sama. R22 sendiri kini mulai ditinggalkan. Banyak negara sudah membatasi penggunaannya karena dampak lingkungan. Singkatnya, R410A menjadi jembatan transisi. Sementara R32 hadir sebagai generasi modern yang lebih efisien, lebih ringan kerja kompresor, dan lebih ramah lingkungan. Kenapa Freon Baru Bisa Bikin AC Lebih Hemat Listrik? Banyak yang mengira hemat listrik itu hanya urusan inverter atau watt kecil. Faktanya, keberadaan R32 AC refrigerant adalah yang membawa pengaruh besar dari dalam sistem. Kuncinya ada di efisiensi perpindahan panas. R32 mampu memindahkan panas 10–20% lebih efisien dibanding R410A, bahkan pada beberapa komponen bisa punya koefisien perpindahan panas 30–50% lebih tinggi. Artinya, penyerapan dan pembuangan panas lebih cepat. Dampaknya terasa ke kompresor. Ia tidak perlu bekerja sekeras freon generasi lama untuk mencapai suhu yang sama. Siklus kerja juga jadi lebih ringan, lebih stabil, dan konsumsi energi ikut turun. Logikanya memang masuk akal—media pemindah panas yang lebih efektif memungkinkan beban mesin ikut berkurang. Cara Paling Mudah Cek Jenis Freon di AC Anda Setelah paham perannya, langkah berikutnya sederhana: cek unit Anda sendiri. Langkahnya sederhana, mulai dari: Cek stiker spesifikasi di indoor maupun outdoor unit. Umumnya tertulis jelas tipe refrigeran yang dipakai. Kalau tidak terlihat, cek buku manual AC Anda. Informasi ini hampir selalu tercantum di halaman awal spesifikasi teknis. Apabila Anda memanggil teknisi, mereka umumnya mengenali jenis pipa dan tekanan kerja dari sistemnya. Tiap refrigeran hemat energi punya karakter tekanan berbeda. Tapi label unit umumnya jadi patokan paling aman untuk penggunaan AC residensial. Langkah kecil ini sering membuka insight besar: apakah AC Anda masih generasi lama, atau sudah memakai refrigeran yang lebih efisien dan modern. Bolehkah Ganti Freon Lama ke Freon Baru? Jangan asal ganti, karena Anda tidak bisa cukup menambah isi freon saja. Tiap kode freon AC rumah dirangkai dengan tekanan kerja dan konstruksi kompresor berbeda. R410A, misalnya, bekerja pada tekanan sekitar 1,5–1,7 kali lebih tinggi dibanding R22. [4] Artinya, pipa, sambungan, dan seluruh sistem memang tidak sama sejak awal. Oleh karena itu, mengganti R22 ke R410A atau R32 tanpa penyesuaian bukan solusi cerdas. Bukan hanya tidak optimal, tapi juga berisiko merusak kompresor dan memicu kebocoran. Mengikuti spesifikasi bawaan unit selalu jadi pilihan paling aman. Kenapa AC Modern Banyak Beralih ke Jenis Freon AC R32? Kalau Anda melihat tren AC terbaru, banyak yang mengarah ke R32 bukan karena ikut-ikutan, tapi karena masuk akal dari tiga sisi. Pertama, lebih ramah lingkungan karena nilai GWP (global warming potential) jauh lebih rendah daripada generasi sebelumnya. Kedua, R32 lebih efisien dalam memindahkan panas, jadi proses “buang panas” ke luar ruangan berjalan lebih cepat dan stabil. Ketiga, karena perpindahan panasnya lebih efektif, kompresor tidak perlu bekerja sekeras sebelumnya untuk mencapai suhu yang sama. Dengan begitu, performa lebih konsisten dan konsumsi energi lebih terkendali. Oleh karena itu, memilih AC dengan R32 bukan sekadar memilih pendingin, tapi memilih teknologi yang lebih relevan untuk rumah modern. Pilih AC yang Tepat sejak Awal Terlihat jelas bahwa jenis freon AC bukan detail teknis sepele. Selain memengaruhi rasa dingin, freon juga memengaruhi efisiensi listrik dan umur pakai unit. Freon modern seperti R32 membuat perpindahan panas lebih efektif, kompresor bekerja lebih ringan, dan performa harian lebih stabil serta ramah lingkungan. Maka dari itu, memilih AC yang sudah menggunakan R32 sejak awal jadi keputusan yang jauh lebih masuk akal. AC split DAIKIN , baik inverter maupun standar, sudah dirancang dengan R32, jadi Anda tidak perlu memikirkan kompatibilitas di kemudian hari. Tunggu apa lagi? Hubungi kami dan dapatkan rekomendasi AC paling sesuai dengan kebutuhan rumah Anda.
oleh Daikin Indonesia 16 Januari 2026
Mencari penyebab AC tidak dingin sering berujung frustrasi. AC menyala normal, angin terasa, tapi ruangan tetap gerah. Tidak sedikit yang panik lalu langsung menyalahkan freon, meski kasus AC tidak dingin tapi angin keluar tidak melulu karena refrigerant yang habis. Artikel ini tidak mengajak Anda main tebak-tebakan. Mari telusuri gejalanya dengan logika yang rutut, agar Anda tahu kira-kira masalahnya ada di mana sebelum memutuskan tindakan. Jangan Langsung Menuduh Freon Saat AC mulai terasa tidak sejuk, dugaan pertama hampir selalu sama: freon habis. Padahal, dalam banyak kasus, itu bukan penyebab AC kurang dingin yang paling sering. Sistem refrigerant (freon) pada AC adalah rangkaian tertutup. Isinya tidak berkurang kecuali ada kebocoran fisik di pipa atau sambungan. Artinya, kalau tidak ada tanda bocor, sangat kecil kemungkinan freon tiba-tiba habis sendiri. Justru masalah lain yang jadi biangnya, dan efeknya mirip. Mulai dari aliran udara terhambat, pembuangan panas tidak optimal, atau komponen bekerja di luar kondisi ideal. Gejala yang sama-sama “tidak dingin” ini membuat freon jadi kambing hitam paling mudah. Oleh karena itu, mulai geser mindset Anda. Kalau bukan freon, berarti ada pola lain yang bisa Anda cek dari gejalanya. Angin Kencang tapi Tidak Sejuk? Cek Indoor Unit Kalau AC terasa tidak dingin tapi hembusannya tetap kencang, besar kemungkinan masalahnya bukan di luar, tapi di indoor unit. Umumnya karena filter AC kotor sehingga debu menumpuk dan aliran udara tersaring terlalu rapat, lalu udara dingin sulit keluar maksimal. Oleh karena itu, Anda mungkin merasakan angin, tapi tidak ada sensasi sejuk. Masalah ini sering berlanjut ke evaporator AC kotor. Debu yang lolos dari filter menempel di coil, sehingga membentuk lapisan yang menghambat perpindahan panas. Kondisi ini membuat pendinginan jadi tidak efektif. Secara umum, evaporator yang kotor bisa menurunkan efisiensi hingga 15%, bahkan membuat konsumsi listrik naik sampai 15% hanya untuk mencapai rasa nyaman yang sama. Faktor lain yang jadi penyebab AC tidak dingin adalah airflow yang tercekik, sehingga sistem harus kerja lebih keras tanpa hasil maksimal. Menariknya, debu rumah kebanyakan berasal dari kain, kulit mati, dan serat halus sehingga sangat mudah terhisap AC tanpa disadari. Dingin Sebentar, lalu Biasa Lagi? Periksa Unit Outdoor Pola ini sering membingungkan. AC awalnya terasa dingin, lalu perlahan kehilangan efeknya. Biasanya siklus kerja yang terganggu ada di luar ruangan. Outdoor kepanasan, kondensor AC kotor, atau kipas outdoor melemah, sehingga pembuangan panas tidak maksimal. Saat panas tidak terlepas dengan baik, suhu kerja sistem juga ikut naik. Secara teknis, coil kondensor yang kotor bisa menaikkan suhu kondensasi sekitar 5–6°C (misalnya dari 35°C ke 41°C). Dampaknya juga langsung terasa karena pendinginan turun sekitar 7%, sementara konsumsi listrik bisa naik 10%. AC tetap bekerja, angin tetap keluar, tapi efektivitasnya merosot. Inilah kenapa ruangan terasa dingin sebentar di awal, lalu seperti tidak ada perubahan lagi. Bukan karena AC-nya berhenti, tapi karena sistemnya bekerja di kondisi yang tidak ideal. Hal ini sering luput karena biasanya perhatian lebih banyak tercurah ke indoor unit. Siang Tidak Dingin, Malam Lumayan? Perhatikan Lingkungan di Sekitar AC Siang hari AC terasa tidak bekerja maksimal dan ruangan tetap gerah. Semantara itu, malam hari terasa sangat nyaman meski Anda tidak melakukan perubahan apa pun. Ini terjadi akibat lingkungan sekitar AC, bukan unitnya. Outdoor yang kena matahari langsung berjam-jam, ditempatkan di sudut sempit tanpa sirkulasi, atau dikelilingi dinding yang menyerap panas akan membuat proses pembuangan panas jadi jauh lebih berat. Secara performa, setiap kenaikan suhu udara luar 1°C bisa menurunkan kapasitas pendinginan sekitar 0,8–2%. Konsumsi listrik juga ikut naik sekitar 1,4% per 1°C. Artinya, selisih suhu luar 5°C saja sudah cukup membuat efisiensi turun drastis, meski AC Anda bekerja normal. Beda dengan malam hari ketika suhu lingkungan turun, di mana panas bisalepas lebih mudah dan sistem bekerja lagi di kondisi ideal. Jadi ketika Anda bingung apa yang harus dilakukan jika AC tidak dingin, cek dulu lokasi dan paparan panas di sekitar outdoor unit. Tidak selalu freon habis yang jadi akar masalahnya. Bocor Air dan Tidak Dingin? Seringnya Satu Masalah yang Sama Saat AC mulai meneteskan air dan di saat yang sama terasa tidak sejuk, banyak orang mengira ini dua gangguan berbeda. Padahal sering kali akarnya sama. Aliran udara yang terhambat membuat suhu coil turun terlalu rendah, bahkan bisa melewati 0°C. Kondisi ini memicu evaporator membeku, sehingga embun yang harus mengalir sebagai air kondensasi justru berubah jadi es di permukaan coil. Ketika es ini mencair, air menetes keluar unit. Proses pendinginan, di saat yang sama, jadi kacau karena udara tidak bisa bersentuhan normal dengan coil. Maka dari itu, Anda merasakan ada tetesan air dan AC tidak sejuk bersamaan. Pemicunya sederhana, seperti kondensat yang mampet atau air flow terganggu oleh kotoran. Dalam banyak kasus, cara mengatasi AC tidak dingin bukan langsung isi freon, tapi memastikan jalur udara dan pembuangan air bekerja normal kembali. Quick Checklist: Bisa Beres Sendiri atau Wajib Panggil Teknisi? Sebelum buru-buru telepon teknisi, ada urutan cek sederhana yang sering menyelamatkan waktu dan biaya. Berikut adalah tanda-tanda kalau masalah bisa Anda selesaikan sendiri: Cek mode di remote—pastikan ada di mode Cool dengan suhu antara 24-26°C. Meski sederhana, salah setting bikin AC terasa tidak berfungsi. Tutup pintu dan jendela ketika menyalakan AC. Sedikit saja celah kebocoran udara bisa membuat dingin tidak terasa. Rutin bersihkan filter AC, karena kotoran yang menempel di filter bisa memangkas performa hingga 7% dan listrik jadi lebih boros. Cuci AC Anda setiap 3-4 bulan, karena unit bersih bisa 30% lebih efisien dalam mendinginkan ruangan. Jika langkah-langkah ini sudah Anda lakukan tapi tidak ada perubahan, Anda perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut dan membutuhkan bantuan teknisi. Beberapa gejala yang sebaiknya dilakukan oleh teknisi profesional adalah: Kipas outdoor lemah atau tidak berputar sama sekali. Membiarkannya hanya membuat pembuangan panas semakin terganggu. Pipa berembun beku atau air menetes berlebihan akibat saluran mampet. AC mati-nyala sendiri, pertanda ada masalah komponen.  Langkah kecil ini sering cukup menentukan apakah masalahnya ringan atau memang butuh penanganan profesional. Pilih Solusi yang Bekerja dari Akarnya Unit rusak sering kali bukan penyebab AC tidak dingin, melainkan karena sirkulasi udara dan pembuangan panas tidak berjalan ideal. Oleh karena itu, penting memilih pendingin ruangan untuk rumah tinggal dari Daikin yang dirancang dengan manajemen airflow dan heat release yang lebih terkontrol. Jika Anda ingin AC bekerja optimal tanpa drama, hubungi kami untuk solusi yang benar-benar sesuai kebutuhan rumah Anda.
oleh Daikin Indonesia 16 Januari 2026
Berlangsung sepanjang tiga hari sejak 16 Januari lalu, DAIKIN melalui cabangnya di Bali menyelenggarakan Consultant Incentive Training. Dengan mengundang anggota Asosiasi Engineer Mekanikal, Elektrikal dan Plambing, kegiatan ini menjadi wadah bagi perusahaan dalam meningkatkan sinergi dengan asosiasi yang menaungi para ahli dan tenaga ahli terkait melalui berbagi wawasan solusi tata udara sekaligus mempererat silaturahmi diantara keduanya. Tujuan inilah yang membuat kegiatan ini berjalan dengan mengkombinasikan pelatihan dan sesi untuk mempererat kebersamaan. Hal ini seturut dengan pandangan DAIKIN dalam membangun hubungan dengan konsultan. Tak hanya sebatas rekan bisnis, namun sebuah kemitraan yang tumbuh bersama dalam memberikan solusi terbaik bagi penggunanya. Berbagai materi yang disampaikan dibuat dengan tujuan meningkatkan dan menyelaraskan pemahaman terkait dengan DAIKIN serta solusi bisnisnya. Disisi lain, sekaligus membuka wawasan mengenai tren pasar dan kebutuhan proyek di Bali. Diantara materi yang disampaikan yaitu pengenalan solusi Marutto, pembahasan desain berbasis studi kasus proyek di Bali, Indoor Environmental Quality (IEQ) dan keunikan produk DAIKIN. Dalam salahsatu sesi, bahkan terdapat simulasi dari presentasi kelompok konsultan dalam menyelesaikan studi kasus proyek. Rancangan demikian dibuat untuk membuat keseluruhan kegiatan mencakup keseluruhan aspek dari mulai pengenalan produk hingga pembahasan aplikasi yang relevan dengan kebutuhan masing-masing proyek. Antusiasnya peserta sepanjang kegiatan, menjadi penanda keberhasilan penyelenggaraan dalam berbagi wawasan sekaligus membangun kedekatan antara perusahaan dengan konsultan.
oleh Daikin Indonesia 15 Januari 2026
Mencari AC yang cocok untuk listrik 900 watt sering terasa seperti jalan di ranjau: salah menyalakan, MCB langsung turun. AC menyala, dispenser harus mati, masak nasi di rice cooker ditunda, hanya karena trauma listrik jeglek kalau semua nyala bersamaan. Kalau daya listrik rumah Anda 900 VA, rasa waswas itu wajar. Artikel ini akan memberikan panduan utuh supaya Anda paham batas aman sebelum ambil keputusan. Miskonsepsi Paling Umum Daya 900 VA Apakah daya listrik 900 watt bisa pasang AC? Bisa. Tapi banyak orang yang menyamakan VA dengan watt, lalu menyimpulkan rumahnya “tidak kuat” menanggung beban AC. Padahal, perangkat tidak terus-menerus menarik daya maksimal. Ada yang disebut dengan faktor daya sekitar 0,8. Artinya, listrik 900 VA memberikan sekitar 720 watt daya nyata yang dipakai alat. Namun, sumber masalahnya adalah lonjakan pertama kali saat AC menyala. Tidak hanya AC, kulkas, pompa air, setrika, semua perangkat listrik ini punya starting surge. Jadi yang perlu Anda pahami bukan hanya berapa kapasitas listriknya, tapi juga bagaimana perangkat bekerja dalam detik awal. Berapa PK AC yang Cocok untuk Listrik 900 Watt? Kalau listrik di rumah berdaya 900 VA, patokan paling aman bukan “mau seberapa dingin” tapi “berapa watt yang bisa ditanggung bersamaan dengan alat lain”. Untuk kelas 0,5 PK, konsumsi jalanannya relatif ramah. AC standard sekitar 350–500 watt, low watt 300–400 watt, dan inverter bisa bermain di 200–450 watt saat suhu sudah stabil. Itu alasan AC 0,5 PK untuk 900 watt sering jadi pilihan paling masuk akal untuk kamar kecil–sedang. Sementara 1 PK mulai berisiko, karena angka jalannya saja sudah besar: standard 700–900 watt, low watt 600–800 watt, inverter 300–750 watt. Apabila Anda menyalakan rice cooker dan pompa air bersamaan dengan AC 1 PK, pasti melebihi batas daya maksimal. PK sendiri adalah kapasitas pendinginan, bukan angka listrik. Sebenarnya tidak mustahil menggunakan AC 1 PK untuk listrik 900 watt. Hanya saja, Anda harus disiplin: jalur listrik idealnya khusus AC, set suhu realistis, dan pilih unit yang punya kontrol daya halus supaya starting surge-nya tidak agresif. Kenapa Banyak AC Bikin Listrik 900 VA Sering Jeglek? Konsumsi listrik AC 1/2 PK di atas kertas memang terlihat aman. Tapi yang menjatuhkan bukan angka itu, melainkan momen pertama kompresor menyala. Inrush current atau LRA adalah lonjakan sesaat yang bisa 3-6 kali lebih tinggi dari daya normal. [2] Ketika hal ini terjadi, MCB bisa bereaksi tanpa transisi pelan, terutama pada AC non-inverter yang menarik daya sekaligus. Faktor lain yang mendukung MCB turun adalah instalasi rumah yang umumnya satu jalur dengan pompa air maupun dapur, sehingga batas 900 VA cepat terlewati. Itulah kenapa AC low watt hemat listrik belum tentu otomatis aman kalau karakteri start-nya masih agresif. Detik awal elektronik di rumah menyala adalah titik krusial, sehingga teknologi pengaturan daya jadi hal yang relevan untuk rumah tangga saat ini. Kenapa Inverter & Low Watt jadi Masuk Akal untuk 900 VA? AC inverter untuk daya kecil mulai terasa relevan. Selain label hematnya, cara kerjanya juga mendukung untuk rumah dengan daya 900 VA. Inverter mampu menyalakan kompresor tanpa pola on-off kasar. Teknologi ini mampu sesuaikan putaran, pelan saat start, dan stabil saat suhu ideal sudah tercapai. Dengan begitu, konsumsi daya lebih halus dan rendah fluktuasi karena lonjakan awal juga lebih jauh terkendali. Secara umum, pola ini bisa membuat pemakaian energi 30–50% lebih efisien daripada non-inverter yang terus siklus hidup-mati. [3] Itu sebabnya AC watt kecil untuk kamar jadi pilihan cerdas untuk ruang terbatas dan listrik kecil. Menariknya, teknologi ini dulu dikembangkan di Jepang saat krisis energi, dengan fokus efisiensi rumah tangga. Namun, pilih PK yang sesuai ruangan dan pastikan instalasinya mendukung, agar karakter smooth ala inverter benar-benar terasa di pemakaian harian. Detail yang Sering Terlewat saat Memilih AC Ketika mempertimbangkan listrik 900 VA pakai AC, pastikan Anda memahami konteks ruangannya, tidak fokus ke PK dan watt saja. Apakah ruangan sering terbuka, kena matahari sore, plafon tinggi, atau ventilasi bocor? Apabila ruang tertutup rapi, 0,5 PK bekerja santai dan stabil. Namun jika ruangan sedang panas dan terbuka, unit kecil dipaksa kerja lebih lama dari desainnya. Kemudian, mulai untuk realistis terkait suhu nyaman. Kebiasaan langsung set 18–20°C sering jadi sumber masalah yang tidak Anda sadari. Padahal, kamar yang kecil sudah cukup sejuk dengan suhu 24–26°C, terutama untuk tidur dan kerja. Dengan begini, kompresor tidak kerja keras untuk mengejar suhu ekstrem, sehingga ritme lebih stabil, konsumsi daya lebih terkontrol. Perhatikan juga ritme pemakaian, karena AC tidak bikin jeglek selama Anda menyalakan peralatan rumah tangga bergantian. Menyalakan banyak alat di waktu yang sama sudah hampir pasti bikin listrik turun. Oleh karena itu, geser kebiasaan beberapa menit saja agar pemakaian jauh lebih aman tanpa ubah instalasi.  Kapan Listrik 900 VA Sudah Tidak Ideal Lagi? Ada titik di mana masalahnya bukan lagi di pilihan AC, tapi di kapasitas rumah yang sudah berubah. Misalnya, AC mulai sering dipakai bersamaan dengan pompa air, rice cooker, setrika, atau water heater. Atau rumah yang tadinya satu kamar tertutup kini jadi ruang lebih terbuka, ada tambahan elektronik, dan aktivitas makin padat. Kondisi seperti ini sebenarnya tidak salah, tapi daya 900 VA sudah tidak lagi relevan dengan pola hidup sekarang. Anda jadi terus “mengatur waktu nyala”, bukan menikmati kenyamanan. Terdengar familier? Ini saatnya Anda upgrade daya. Ubah mindset Anda: tambah daya bukan berarti boros, tapi menyesuaikan kebutuhan. Sama seperti pindah motor ke mobil saat keluarga bertambah, bukan karena yang lama sudah jelek, tapi konteks sudah mulai berubah. Pilih yang Dirancang untuk Kondisi Rumah Anda Persoalannya bukan di angka 900 VA, tapi di tipe AC yang kurang ramah terhadap gaya kecil. Jika ini Anda alami, AC paling dingin bukan kebutuhan utama. Anda perlu AC yang stabil, starting surge yang halus, dan adaptif mengikuti kemampuan listrik di rumah. Tipe AC tertentu jadi jauh lebih masuk akal untuk kondisi listrik seperti ini. Salah satunya adalah AC single split dari Daikin dengan teknologi inverter. Produk ini dirancang khusus dengan konsumsi daya lebih terkontrol dan karakter kerja yang stabil saat unit terus menyala meski listrik terbatas. Kalau Anda masih mencari AC yang cocok untuk listrik 900 watt, pendekatan seperti inilah yang perlu jadi prioritas. Tidak perlu lagi mengatur hidup hanya karena takut listrik turun. Hubungi kami untuk mendapatkan rekomendasi tipe yang paling sesuai dengan kebutuhan ruangan Anda!
Show More