Daikin Indonesia Tanda Tangani Nota Kesepahaman Dengan Universitas Pamulang
Daikin Indonesia • 11 Juni 2020
Presiden Direktur PT Daikin Airconditioning Indonesia, Bapak Ching Khim Huat resmi menanda tangani Nota Kesepaham dengan Universitas Pamulang.
Pada kesempatan ini Daikin Indonesia juga memberikan bantuan unit AC sebagai pendukung alat peraga dan praktikum mahasiswa teknik Universitas Pamulang, yang diserahkan langsung oleh Bapak Budi Mulia Direktur Finance dan Other Service. Bapak Wan M. Fawzie, General Manager Divisi Business Planning yang juga hadir menyerahkan simbolis buku panduan training sekaligus menandai lengkapnya prosesi Nota Kesepahaman antara kedua belah pihak.
You might also like

Perbedaan AC inverter dan non inverter sering baru terasa setelah tagihan listrik naik. Padahal, di rumah tropis beberapa unit AC bisa menyerap lebih dari setengah daya bulanan, bahkan saat suhu sudah diatur di kisaran nyaman. [1] Ironisnya, AC lama memang terasa lebih dingin karena bekerja agresif, tapi justru itulah yang membuatnya boros. Jika Anda ingin tahu sistem mana yang benar-benar cocok dengan lifestyle Anda, lanjutkan membaca hingga memahami perbedaan AC inverter dan non inverter. Cara Kerja yang Membuat Inverter dan Non-Inverter Terpisah Jauh Perbedaan utama antara kedua sistem ini terletak pada cara kerja AC inverter dalam mengatur kompresor. Pada AC non-inverter, mesin hanya mengenal dua kondisi: menyala penuh atau mati total. Setiap kali suhu naik sedikit, kompresor kembali bekerja maksimal, sehingga memicu lonjakan listrik berulang. Inverter, sebaliknya, mengatur kecepatan kompresor secara bertahap mengikuti kebutuhan pendinginan. Begitu suhu mendekati target, daya langsung turun dan stabil. Inilah yang membuatnya jauh lebih efisien dalam pemakaian panjang—bahkan dalam praktik bisa memangkas konsumsi energi setidaknya 30% daripada sistem on/off konvensional. [2] Pendinginan juga terasa lebih smooth, suhu konsisten, dan mesin tidak perlu bekerja ekstrem. Kesalahan Paling Umum Saat Membandingkan AC Kesalahan paling sering adalah membandingkan AC seperti membandingkan lampu: lihat watt, lihat harga, lalu selesai. Padahal AC bukan perangkat “sekali nyala langsung stabil”—yang menentukan boros atau tidak justru pola pakainya. AC non inverter bisa terlihat ekonomis di awal, tetapi jika Anda memakainya terus-menerus dan beban panasnya naik turun, sistem on/off bikin listrik tersedot lewat lonjakan berulang. Jadi, sebelum memutuskan, perhatikan konteks pemakaian, durasi harian, kondisi ruangan, dan target kenyamanan. Perbedaan AC Inverter dan Non-Inverter yang Terasa di Kehidupan Nyata Berikut adalah perbedaan yang pasti Anda rasakan ketika memakai AC inverter dan non-inverter di rumah. 1. AC Menyala Seharian di Ruang Keluarga Ruang keluarga biasanya dipakai paling lama, sehingga stabilitas konsumsi menjadi kunci. AC 1 PK non-inverter bisa menarik sekitar 700–900 watt saat bekerja penuh, sementara versi inverter dapat turun jauh setelah suhu tercapai. [3] Inilah sebabnya, untuk pemakaian panjang, inverter terasa lebih “tenang” di meteran listrik. 2. Hanya Dipakai di Malam Hari Kamar, sementara itu, hanya perlu pendinginan beberapa jam sebelum tidur, sehingga AC inverter vs biasa tidak selalu soal irit atau tidak. Non-inverter sering lebih rasional secara biaya awal karena periode pemakaiannya pendek, sehingga penghematan energi inverter belum tentu cukup besar untuk menutup selisih harga. 3. Rumah Banyak Kaca dan Terpapar Matahari Kaca besar dan orientasi matahari meningkatkan beban panas secara signifikan—dalam kondisi tertentu, bahkan bisa melonjak drastis. [4] Inverter jauh lebih unggul dalam situasi ini, karena mampu menyesuaikan output kompresor secara halus. Suhu jadi stabil tanpa terus “memompa” daya seperti sistem on/off. 4. Suara Bising Salah satu perbedaan AC yang sering terasa adalah kebisingan. Non-inverter akan berbunyi setiap kali kompresor menyala ulang, sementara inverter berjalan lebih kontinu. Bagi pengguna yang sensitif terhadap suara, kestabilan kerja ini membuat ruangan terasa lebih tenang, terutama di malam hari. 5. Usia Kompresor Lonjakan arus berulang pada sistem non-inverter memberi tekanan mekanik yang lebih besar. Dengan konsumsi listrik AC inverter yang lebih stabil dan tanpa siklus mati-nyala ekstrem, komponen bekerja lebih ringan. Dalam jangka panjang, sistem kerja seperti ini bantu jaga usia pakai tetap optimal. 6. Tegangan Listrik Rumah yang Tidak Stabil Tegangan listrik bisa naik turun tanpa disadari pada beberapa rumah. Sistem inverter lebih toleran terhadap kondisi ini karena pengaturan dayanya bertahap, sehingga kinerjanya lebih konsisten. Inilah salah satu alasan mengapa inverter sering diasosiasikan dengan konsep AC hemat listrik dalam praktik sehari-hari. 7. Biaya Jangka Panjang Apabila Anda menghitungnya secara total selama memiliki AC, teknologi inverter memang lebih mahal di awal. Namun, penghematan listrik dan perawatan bisa membuat totalnya lebih rendah untuk jangka panjang. Bahkan simulasi umum menunjukkan selisih biaya bisa berbalik menguntungkan inverter setelah beberapa tahun pemakaian rutin. [5] 8. Tinggal di Hunian Kecil Beban panas cepat berubah di ruang yang terbatas. Hal ini karena aktivitas dan paparan matahari yang variatif. Teknologi inverter lebih fleksibel karena outputnya bisa menyesuaikan, sehingga tidak terjadi pendinginan berlebihan. Suhu juga jadi lebih nyaman sekaligus menjaga konsumsi energi tetap terkendali. 9. AC dengan Teknologi “Set-and-Forget” Kenyamanan kadang juga termasuk tidak perlu sering-sering mengatur ulang. Teknologi inverter memungkinkan suhu terjaga secara otomatis dan smooth, sehingga tak berlebihan kalau AC inverter lebih baik bagi pemilik rumah yang ingin nyaman tanpa repot memantau setiap perubahan. Jadi, Mana yang Lebih Cocok untuk Anda? Setelah menelusuri poin-poin yang sering terjadi di rumah tinggal, Anda bisa melihat bahwa setiap profil—heavy user, light used, urban family, hingga small apartment—punya kebutuhan pendinginan yang berbeda. Itulah mengapa memilih AC tidak pernah bisa seragam—tidak ada one solution fits all. Daikin menyediakan pilihan AC hunian single split , baik inverter maupun non-inverter, agar sistemnya bisa benar-benar sesuai dengan cara Anda menggunakan ruang. Setelah Anda mengetahui daily life Anda, langkah berikutnya adalah menentukan mana yang terbaik. Hubungi kami untuk menemukan opsi yang paling relevan untuk hunian Anda. Lebih dari apapun, memahami perbedaan AC inverter dan non inverter adalah langkah pertama menemukan keseimbangan antara kenyamanan dan biaya jangka panjang.

Melalui kantor cabangnya di Bandung, PT Daikin Airconditioning Indonesia (DAIKIN) menghelat Gathering Asosiasi Installer AC di Sukabumi pada 19 Desember lalu. Perhelatan ini menjadi upaya DAIKIN dalam menjangkau dan membina hubungan dengan para installer di area Sukabumi dan sekitarnya. Tinggi antusias pada acara ini ditunjukkan dengan kehadiran 51 peserta dalam acara yang berlangsung di salahsatu hotel di Sukabumi. Tak hanya memperkuat silaturahmi, dalam acara ini DAIKIN juga berkesempatan memberikan berbagai materi edukasi. Mulai dari pengetahuan produk, hingga aspek seputar instalasi dan pemeliharaan. Tujuannya, memperbarui pengetahuan teknis para installer dalam menghadapi tantangan proyek di lapangan. Dengan pendekatan lebih pada nuansa informal, penyelenggaraannya justru membuka terjadinya diskusi interaktif dan sesi tanya jawab. Selain membuat peserta memiliki pemahaman lebih kaya terkait dengan materi yang disampaikan, diskusi ini membuka peluang kolaborasi DAIKIN dan installer di masa mendatang. Menjadi harapan DAIKIN, kegiatan ini dapat memberikan dampak nyata pada pengayaan wawasan installer di Sukabumi dan sekitarnya. Sekaligus pula, terjadinya penguatan kerjasama DAIKIN dan installer dalam kerangka penjagaan kepuasan pengguna DAIKIN.

AC hemat listrik sering baru terasa penting saat tagihan melonjak dan AC untuk rumah bekerja nyaris tanpa jeda. Penggunaan AC di rumah tinggal tropis sendiri bisa menyedot hingga sekitar setengah konsumsi bulanan [1] —bahkan satu unit standar saja dapat menguras ratusan watt tiap jamnya. Tak heran banyak orang mulai sadar kalau dingin memang terasa, tapi boros anggaran malah jadi kebiasaan setiap bulan. Kalau Anda ingin tetap nyaman tanpa rasa bersalah di akhir bulan, teruskan membaca sampai memahami apa yang benar-benar membuat AC hemat listrik. AC Bisa Irit Tanpa Harus Berdaya Kecil Banyak orang mengira AC low watt otomatis berarti lebih hemat. Padahal, kuncinya ada pada bagaimana AC mengelola energi sejak pertama kali nyala hingga suhu stabil tercapai. AC lama bekerja seperti saklar: kompresor hidup penuh, lalu mati, lalu hidup lagi. Setiap siklus ini memicu lonjakan daya besar—itulah yang membuat listrik boros tanpa Anda sadari. Sebaliknya, AC modern memakai sistem modulasi yang menyesuaikan kerja kompresor mengikuti kebutuhan ruangan dengan halus. Begitu suhu mendekati target, daya turun dan bertahan stabil—bukan putus lalu bekerja berulang. Menariknya, AC keluaran lama memang terasa lebih dingin karena prosesnya terjadi dengan agresif. Namun, justru ini yang membuat tagihannya lebih mahal. Teknologi yang Menentukan Irit atau Borosnya AC Konsumsi listrik AC, jika Anda perhatikan lebih dalam, tidak hanya bergantung pada spesifikasi di brosur. Bagaimana pendingin merespons perubahan panas di ruangan juga jadi faktor penentu. Berikut adalah teknologi yang menjadikan AC hemat listrik betulan hemat dalam konsumsi energinya meski Anda memakainya setiap hari. Inverter sebagai “Otak” Pengatur Daya Teknologi inverter memungkinkan kompresor berputar dengan kecepatan variabel dan menyesuaikan daya dengan kebutuhan pendinginan. Teknologi ini juga tidak membuat mesin mati-nyala ekstrem, sekaligus jaga stabilitas suhu dengan energi yang jauh lebih rendah. Pada praktiknya, konsumsi listrik bisa terpangkas hingga sekitar 30-50%. Sensor Beban Panas yang Membaca Ruangan Sensor panas bekerja seperti indera bagi sistem AC. Selain perubahan suhu, sensor ini juga mendeteksi jumlah orang hingga radiasi matahari. Dengan data ini, sistem tahu kapan harus meningkatkan atau menurunkan kerja kompresor, sehingga energi hanya terpakai saat ada kebutuhannya, bukan terus-menerus. Kontrol Presisi Kompresor yang Menjaga Efisiensi Presisi kontrol membuat kompresor tidak bekerja berlebihan. Begitu suhu mendekati target, daya langsung turun dan terjaga di angka konstan. Inilah yang membuat pendinginan terasa halus dan stabil, sekaligus menghindari lonjakan listrik yang biasanya terjadi pada sistem lama. Ketika ketiganya bekerja selaras, AC tidak hanya terasa lebih nyaman, tetapi juga jauh lebih rasional secara energi. Ini juga jadi ciri khas dari merek yang investing pada rekayasa pendingin, bukan hanya klaim hemat di permukaan. Kenapa AC yang Irit di Brosur Bisa Boros di Rumah Tropis Lingkungan rumah di Indonesia sering memberi beban yang jauh lebih berat daripada asumsi di spesifikasi pabrik. Panas matahari yang menembus kaca besar, sirkulasi udara dari pintu yang sering terbuka, hingga ruang keluarga yang menyatu dengan dapur membuat suhu ruangan naik–turun sepanjang hari. Kondisi ini memaksa kompresor bekerja lebih sering dan lebih keras, meski watt AC di atas kertas terlihat kecil. Pada rumah modern yang banyak memakai kaca dan konsep terbuka, panas eksternal masuk terus-menerus. Kondisi ini memaksa sistem pendingin mengimbangi beban panas tambahan yang tidak terlihat. Inilah sebabnya AC yang tampak irit di brosur bisa terasa jauh lebih boros dalam pemakaian nyata—bukan karena teknologinya salah, tetapi karena lingkungannya jauh lebih menantang. Stabilitas Suhu yang Membuat AC Irit Meski Dipakai Seharian Anda bisa melihat kalau sebagian sistem pendingin mampu tetap jadi AC irit daya meski pemakaiannya dari pagi hingga malam. Kuncinya bukan pada “mode hemat” tapi pada bagaimana algoritma mengatur stabilitas suhu secara konsisten. Sistem dengan smart control akan menjaga fluktuasi suhu tetap sempit, sehingga kompresor tidak perlu mengerja perubahan ekstrem yang boros energi. Area ini jadi pendekatan engineering Jepang yang terkenal unggul—presisi adalah yang utama, bukan reaksi yang agresif. Secara teknis, efisiensi ini tercermin pada nilai COP (Coefficient of Performance) yang tinggi—pada AC modern berada di kisaran 3,5 hingga lebih dari 5. Semakin tinggi nilainya, semakin banyak pendinginan yang dihasilkan dari setiap unit listrik yang dipakai. Artinya, ruangan tetap nyaman tanpa harus membayar mahal dalam jangka panjang. Ubah Riset Jadi Keputusan Cerdas Kebutuhan pendinginan kamar tidur tentu beda dengan ruang keluarga. Oleh karena itu, memilih jenis AC sangat menentukan seberapa efisien energi terpakai. Namun, ini bukan soal menemukan yang paling murah. Lalu AC apa yang bagus dan hemat listrik? Pastikan Anda menemukan keseiambangan antara kapasitas, teknologi seperti AC inverter, layanan purna jual, dan reputasi merek yang andal bertahun-tahun. Ini penting karena kenyamanan di rumah bukan keputusan sesaat, tapi investasi jangka panjang. Jika Anda siap melangkah dari riset ke solusi nyata, hubungi kami dan temukan AC single split Daikin yang ideal untuk hunian modern. Dengan pendekatan engineering Jepang, Daikin mampu menyesuaikan kapasitas dengan kebutuhan nyata di ruangan, terutama untuk rumah tinggal di negara tropis. Lebih dari apapun, Anda tidak sedang membeli sistem, tapi kendali atas biaya dan kenyamanan—yang jadi esensi memilih AC hemat listrik.

