Survei Udara Dunia Daikin (Daikin World Air Survey)

Survei Udara Dunia Daikin (Daikin World Air Survey)

"Kesadaran dan Budaya Terkait Pendingin Ruangan (AC) dan Udara" di Antara 1.200 Orang di 12 Kota di Seluruh Dunia

Daikin menyelenggarakan "Daikin World Air Survey" pada tahun 2024. Survei ini utamanya menyoroti bagaimana masyarakat di 12 kota di seluruh dunia memandang dan menggunakan AC dalam kehidupan sehari-hari, serta mengeksplorasi perbedaan dan persamaan di antara kota-kota tersebut.


AC, yang diciptakan di AS sekitar 100 tahun yang lalu, berperan sebagai sejenis infrastruktur sosial yang sangat penting bagi kehidupan yang nyaman dan sehat. Pada bulan Juli 2024, suhu rata-rata global mencapai rekor tertinggi dalam sejarah*1, yang membuat peran AC menjadi kian krusial. Berdasarkan latar belakang ini, Daikin bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan AC dan udara di antara audiens global.



Daikin menyediakan udara yang ideal untuk setiap wilayah di 175 negara dan kawasan. Dalam upayanya untuk mewujudkan "Perfecting the Air" di dunia, Daikin terus bersungguh-sungguh menangani beragam lingkungan dan kebutuhan dari berbagai negara serta berkontribusi pada penyebaran AC yang berkelanjutan.

> Layanan Perubahan Iklim Copernicus (Copernicus Climate Change Service) > Lihat Siaran Pers

Berapa Bulan Orang Menggunakan Pendingin Ruangan (AC untuk Mendinginkan) dalam Setahun?

Di antara 12 kota yang disurvei, Bangkok (Thailand) menduduki peringkat teratas dengan rata-rata penggunaan AC selama 10,4 bulan, diikuti oleh Lagos (Nigeria) dengan 9,5 bulan. Selain itu, 70% orang di Bangkok dan 53% orang di Lagos melaporkan menggunakan AC selama "12 bulan (1 tahun)". Mengingat rata-rata suhu udara tertinggi (bulan terpanas)*2 yang relatif tinggi di antara kota-kota yang disurvei (Bangkok: 36ºC/96,8℉, Lagos: 34ºC/93,2℉), serta rata-rata suhu udara terendah (bulan terdingin)*3 yang melebihi 20,0ºC/68,0℉, tampaknya AC memang diperlukan sepanjang tahun di Bangkok dan Lagos.



Riyadh (Arab Saudi) dan New Delhi (India) juga dianggap sebagai kota yang panas, dengan rata-rata suhu udara tertinggi (bulan terpanas) melebihi 40ºC. Rata-rata jumlah bulan penggunaan AC di kedua kota ini masing-masing adalah 7,9 bulan dan 7,0 bulan, yang tampaknya lebih lama dibandingkan kota-kota lainnya. Namun, di Riyadh dan New Delhi, rata-rata suhu udara terendah (bulan terdingin) masing-masing adalah 9ºC dan 8ºC, yang menunjukkan bahwa kota-kota tersebut juga memiliki musim dingin. Oleh karena itu, persentase orang yang menggunakan AC selama "12 bulan" masing-masing sebesar 18% dan 16%, jauh lebih rendah dibandingkan Bangkok dan Lagos.


*2 Suhu pada bulan dengan rata-rata suhu maksimum tertinggi dari Januari hingga Desember. (Rata-rata tahun 1992-2021 atau 2012-2021).

Sumber:

> Time and Date https://www.timeanddate.com/weather/.

*3 Suhu pada bulan dengan rata-rata suhu minimum terendah dari Januari hingga Desember. (Rata-rata tahun 1992-2021 atau 2012-2021).

> Time and Date https://www.timeanddate.com/weather/.

Berapa Bulan Orang Menggunakan Pendingin Ruangan (AC untuk Mendinginkan) dalam Setahun?

Berdasarkan survei tersebut, Daikin menghitung "rata-rata jumlah jam penggunaan AC saat menghabiskan sepanjang hari di rumah pada bulan terpanas dalam setahun*4."



Masyarakat di Houston tercatat menggunakan AC paling lama, yaitu selama 17,2 jam, dan secara mengejutkan sebanyak 41% warga Houston menggunakannya selama 24 jam penuh. Kota dengan durasi penggunaan terlama kedua dan ketiga adalah Riyadh (Arab Saudi) dengan 14,9 jam, serta New York dengan 12,6 jam. Menyalakan AC terus-menerus daripada sering menyalakan dan mematikannya tampaknya telah menjadi hal yang lumrah bagi masyarakat di AS, tempat sistem AC sentral digunakan secara luas.

Berapa Bulan Orang Menggunakan Pendingin Ruangan (AC untuk Mendinginkan) dalam Setahun?

AC (air conditioner) telah dikembangkan agar sesuai dengan iklim, gaya hidup, dan struktur hunian yang berbeda di berbagai negara. Oleh karena itu, apa yang terlintas di benak orang ketika menyebut "AC" dapat bervariasi dari satu negara ke negara lain.




Sebagai contoh, arus utama di AS adalah "sistem AC sentral", yang mengalirkan udara dingin atau panas ke seluruh ruangan melalui saluran (duct) yang terpasang di seluruh rumah. Di sisi lain, banyak wilayah di dunia umumnya menggunakan "AC kontrol individual", seperti AC ductless mini-split.

*4 Rata-rata jumlah jam penggunaan AC dihitung berdasarkan jawaban atas pertanyaan “Berapa jam per hari Anda menggunakan AC (mendinginkan) saat menghabiskan sepanjang hari di rumah pada bulan terpanas dalam setahun?” Jawaban “1 hingga 2 jam” dihitung sebagai 1,5 jam, “3 hingga 4 jam” sebagai 3,5 jam, “5 hingga 6 jam” sebagai 5,5 jam, “7 hingga 10 jam” sebagai 8,5 jam, “11 hingga 15 jam” sebagai 13 jam, “16 jam hingga kurang dari 24 jam” sebagai 19,5 jam, dan “24 jam” sebagai 24 jam.

Apakah Pengaturan Suhu AC Bervariasi dari Kota ke Kota?

Tokyo (Jepang) tercatat sebagai kota dengan rata-rata pengaturan suhu AC*5 tertinggi di rumah pada bulan terpanas dalam setahun, yaitu 26,2ºC/79,2℉, sedangkan Lagos (Nigeria) memiliki pengaturan suhu terendah, yaitu 21,9ºC/71,4℉, dengan selisih sebesar 4,3ºC/7,8℉.


Rata-rata pengaturan suhu terendah kedua dan ketiga setelah Lagos adalah 22,2ºC/72,0℉ di Sao Paulo (Brasil) dan 22,4ºC/72,3℉ di New York. Dikatakan bahwa persepsi masyarakat terhadap suhu bergantung pada negara asal dan kondisi fisik masing-masing, dan di Lagos, Sao Paulo, serta New York, banyak orang tampaknya merasa suhu yang lebih rendah lebih nyaman.



Di sisi lain, rata-rata pengaturan suhu di kota-kota Asia seperti Tokyo, Bangkok (Thailand), dan Shanghai (Tiongkok) ternyata lebih tinggi dibandingkan kota-kota lainnya (Tokyo: 26,2ºC/79,2℉, Bangkok: 25,1ºC/77,2℉, Shanghai: 25,0ºC/77,0℉). Banyak orang di negara-negara Asia tampaknya sensitif terhadap dingin atau memperhatikan agar suhu tidak terlalu rendah guna menghemat energi.

Ternyata, 92% orang di Tokyo juga khawatir dengan tagihan listrik mereka saat menggunakan AC, angka tertinggi di antara 12 kota tersebut. Selain itu, Tokyo memiliki persentase tertinggi untuk orang yang "mengatur suhu lebih tinggi (untuk mendinginkan) atau lebih rendah (untuk memanaskan)" sebagai "langkah menghemat listrik saat menggunakan AC di rumah", yaitu sebesar 71%. Rata-rata pengaturan suhu di Tokyo ini mungkin berkaitan dengan tingginya tingkat kesadaran terhadap tagihan listrik.

*5 Rata-rata pengaturan suhu dihitung berdasarkan jawaban atas pertanyaan “Manakah pengaturan suhu AC yang paling sering digunakan di rumah pada bulan terpanas dalam setahun?” Nilai Fahrenheit dikonversi dari rata-rata dalam Celsius. Jawaban “18°C atau lebih rendah” dihitung sebagai 18°C, sedangkan “30°C atau lebih tinggi” dihitung sebagai 30°C. Jawaban yang menyatakan pengaturan “otomatis” tidak dimasukkan dalam perhitungan.

Kota Mana yang Memiliki Selisih Terbesar Antara 'Pengaturan Suhu' dan 'Suhu Udara Luar' di Musim Panas?

Selisih antara 'pengaturan suhu AC' dan 'suhu udara luar' memengaruhi konsumsi daya AC secara signifikan.


Selisih antara rata-rata suhu udara tertinggi1 dan rata-rata pengaturan suhu5 pada bulan terpanas adalah yang terbesar di Riyadh (Arab Saudi) sebesar 20,6ºC/37,1℉ (rata-rata suhu udara tertinggi 44,0ºC/111,2℉, rata-rata pengaturan suhu 23,4ºC/74,1℉), diikuti oleh New Delhi (India) sebesar 16,8ºC/30,2℉ (rata-rata suhu udara tertinggi 40,0ºC/104,0℉, rata-rata pengaturan suhu 23,2ºC/73,8℉) dan Lagos (Nigeria) sebesar 12,1ºC/21,8℉ (rata-rata suhu udara tertinggi 34,0ºC/93,2℉, rata-rata pengaturan suhu 21,9ºC/71,4℉).


Selisih tersebut tercatat sebesar 5,8ºC/10,4℉ (rata-rata suhu udara tertinggi 32,0ºC/89,6℉, rata-rata pengaturan suhu 26,2ºC/79,2℉) di Tokyo, dan 2,3ºC/4,1℉ (rata-rata suhu udara tertinggi 26,0ºC/78,8℉, rata-rata pengaturan suhu 23,7ºC/74,7℉) di Paris (Prancis), yang merupakan selisih terkecil. Karena suhu udara luar di Riyadh dan New Delhi sangat tinggi, beban kerja pada AC tampaknya relatif tinggi.



Dengan mempertimbangkan “jumlah jam penggunaan AC per hari” dan “selisih antara suhu udara tertinggi dan pengaturan suhu” selama periode terpanas dalam setahun, Riyadh menonjol dalam kedua indeks tersebut. Tampaknya AC cenderung beroperasi lebih lama di lingkungan yang memberikan beban kerja signifikan seperti di Riyadh.

Siapa Mayoritas, Mereka yang Suka Terkena Hembusan Angin AC atau yang Tidak Suka?

Bangkok (Thailand) memiliki persentase tertinggi untuk orang yang suka terkena langsung dan merasakan hembusan angin pendingin ruangan (AC) di antara 12 kota, yaitu mencapai 98%. Selain itu, Shanghai (Tiongkok), Houston, New Delhi (India), Lagos (Nigeria), New York, Sao Paulo (Brasil), dan Istanbul (Turki) mencatatkan angka di atas 80%.



Di saat sebagian besar penduduk di berbagai kota lebih menyukai mendinginkan diri di bawah hembusan angin AC, hasil dari Tokyo (Jepang) dan Madrid (Spanyol) justru terbelah antara mereka yang menyukainya dan yang tidak. Meskipun berada di bawah hembusan angin memberikan rasa sejuk pada hari yang panas, preferensi masyarakat terbagi karena hembusan angin yang terlalu kuat dapat terasa terlalu dingin atau menyebabkan kulit kering.

Faktor Apa yang Paling Penting Saat Membeli AC?

Di 11 dari 12 kota, “efisiensi energi” dipilih sebagai faktor paling penting saat membeli AC*6, dengan tingkat prioritas yang sangat menonjol di Bangkok (Thailand) dan Istanbul (Turki). Hanya di Shanghai (Tiongkok), tingkat kepentingan tertinggi diberikan pada “performa pendinginan/pemanasan yang efektif”, yang kemudian diikuti oleh “efisiensi energi”.



Selain itu, di New York, Houston, Paris (Prancis), dan Madrid (Spanyol), persentase orang yang memilih “harga yang terjangkau” hampir setinggi persentase pilihan “efisiensi energi” (dengan selisih kurang dari 10%), yang menunjukkan bahwa masyarakat di kota-kota tersebut mementingkan biaya listrik harian sekaligus biaya pembelian awal (initial cost) unit AC. Sementara itu, masyarakat di Sao Paulo (Brasil), Bangkok, New Delhi (India), dan Shanghai (Tiongkok) tampaknya menempatkan tingkat kepentingan yang lebih rendah pada harga pembelian dibandingkan kota-kota lainnya.

*6 Responden diminta untuk mendaftarkan tiga faktor paling penting saat membeli AC, dan hasilnya diurutkan berdasarkan rata-rata tertimbang (weighted average) dengan memberikan nilai bobot pada faktor paling penting (3 poin), kedua paling penting (2 poin), dan ketiga paling penting (1 poin).


Sebagai alasan mengapa masyarakat menempatkan prioritas tertinggi pada “efisiensi energi” saat membeli AC, alasan “untuk mengurangi tagihan listrik” berada di peringkat yang lebih tinggi daripada “untuk mengurangi dampak lingkungan (misalnya pemanasan global)” di seluruh kota.



Meskipun demikian, New York tampil menonjol dengan 45,2% responden memilih “untuk mengurangi dampak lingkungan,” mencerminkan reputasi New York sebagai salah satu kota yang paling sadar lingkungan di AS. Selain Paris dan Madrid di Eropa—yang dikenal sebagai wilayah berwawasan lingkungan maju—Istanbul, New Delhi, dan Sao Paulo juga mencatatkan hasil yang relatif tinggi di antara 12 kota, di mana lebih dari 30% responden memilih “untuk mengurangi dampak lingkungan.” Walaupun begitu, sebagian besar masyarakat di semua kota tampaknya saat ini masih lebih memedulikan tagihan listrik yang berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari mereka.

AC dan Netralitas Karbon

Meskipun AC memainkan peran penting dalam melindungi kehidupan manusia, perangkat ini juga disebut bertanggung jawab atas sekitar 10% dari total konsumsi listrik di dunia. Jika listrik yang digunakan oleh AC berasal dari bahan bakar fosil, sejumlah besar gas rumah kaca akan teremisi saat AC digunakan. Karena AC merupakan bagian esensial dari kehidupan masyarakat, netralitas karbon perlu terus didorong agar dampak lingkungannya dapat dikurangi, bahkan ketika jumlah penggunaan AC terus meningkat.


Total jumlah CO₂ yang diemisikan oleh satu unit AC sepanjang masa pakainya diperkirakan mencapai 3.692 kg*7. Selain itu, 89% dari total emisi tersebut dihasilkan “saat AC digunakan.” Sebagai produsen, Daikin berkomitmen untuk mengurangi emisi selama proses manufaktur dan transportasi AC, serta terus meningkatkan teknologi hemat energi guna memitigasi dampak pemanasan global, termasuk saat AC beroperasi.



Untuk rincian lebih lanjut:

https://www.daikin.com/air/daikin_brand/carbon_neutrality

*7 Diperagakan/Ditingkatkan oleh Daikin

Bagaimana Kebutuhan Terhadap AC Berubah Dibandingkan 10 Tahun Lalu??

Ketika ditanya apakah masyarakat merasa kota mereka menjadi lebih panas atau lebih dingin dibandingkan 10 tahun lalu, persentase orang yang menjawab “Menjadi jauh lebih panas” adalah yang tertinggi di 10 dari 12 kota. Di antara kota-kota tersebut, Bangkok (Thailand) memiliki persentase tertinggi sebesar 87%, diikuti oleh New Delhi (India) sebesar 81%, dan Sao Paulo (Brasil) sebesar 78%.



Selain itu, ketika ditanya apakah masyarakat merasa bahwa “AC menjadi jauh lebih dibutuhkan dibandingkan 10 tahun lalu?”, persentase orang yang menjawab “Sangat setuju” adalah yang tertinggi di 11 dari 12 kota. Berdasarkan urutan persentase tertinggi, kota-kota tersebut adalah Sao Paulo sebesar 81%, Bangkok sebesar 79%, Riyadh (Arab Saudi) sebesar 73%, New Delhi sebesar 72%, Shanghai (Tiongkok) sebesar 71%, serta Lagos (Nigeria) sebesar 70%. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan AC tampaknya meningkat jauh lebih cepat di kota-kota tersebut.

Peran yang Dimainkan oleh AC dan Tingkat Penetrasi Pasarnya

Meskipun AC telah tersebar luas di banyak negara, perangkat ini juga memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan ekonomi di negara-negara beriklim panas. Ambil contoh Singapura, salah satu negara paling maju di Asia Tenggara. Lee Kuan Yew, pendiri sekaligus mantan Perdana Menteri Singapura, pernah menyatakan, “penemuan paling berpengaruh dalam 100 tahun terakhir adalah AC. Pembangunan Singapura tidak akan mungkin terwujud tanpa adanya pendingin ruangan.” Di lingkungan yang terlalu panas untuk dapat berfokus pada pekerjaan, beliau adalah orang pertama yang memasang AC di gedung-gedung tempat para pegawai negeri bekerja, yang pada akhirnya meningkatkan produktivitas masyarakat dan membentuk pemerintahan yang efisien.



Seperti yang dapat dilihat, AC telah menjadi bagian esensial dari kehidupan masyarakat. Di sisi lain, memang benar bahwa di beberapa negara dan wilayah, AC masih belum digunakan secara luas akibat kendala infrastruktur dan tingkat pendapatan, bahkan ketika suhu udara tergolong tinggi. Menurut IEA, tingkat penetrasi AC diperkirakan hanya sebesar 5% di India, 6% di Afrika Selatan, dan 16% di Brasil. Namun, jumlah AC yang beroperasi di seluruh dunia diperkirakan akan meningkat sekitar tiga kali lipat pada tahun 2050 seiring dengan perkembangan pesat di negara-negara berkembang, dan popularitasnya diproyeksikan akan terus meluas di masa depan.

Seberapa Penting Kualitas Udara dalam Kehidupan Sehari-hari?

Dalam perbandingan persentase masyarakat yang menganggap kualitas udara “sangat penting” dalam kehidupan sehari-hari mereka, Lagos (Nigeria) menduduki peringkat teratas sebesar 95%. Di lima kota lainnya—Sao Paulo (Brasil), Riyadh (Arab Saudi), Bangkok (Thailand), Istanbul (Turki), New Delhi (India), serta Houston—lebih dari 70% masyarakat menilai kualitas udara sebagai hal yang “sangat penting.” Meskipun udara tidak kasatmata, banyak penduduk di kota-kota ini yang tampaknya sangat memperhatikan kualitas udara dalam kehidupan sehari-hari mereka. Di sisi lain, Tokyo (Jepang) dan Paris (Prancis) memiliki lebih sedikit orang yang menganggap kualitas udara “sangat penting,” masing-masing hanya sebesar 39% dan 31%.

Apa Saja Jenis Kekhawatiran Terkait Udara di Dunia?

Ketika ditanya mengenai “kekhawatiran terkait udara yang dimiliki masyarakat dalam kehidupan sehari-hari6,” banyak orang di sebagian besar kota menyebutkan masalah suhu dan kelembapan, yang memang mudah dirasakan secara langsung. Namun, masyarakat juga tampaknya menghadapi kendala dari “polusi udara” seperti virus, bau tidak sedap, dan gas buang. Di Lagos, total persentase kekhawatiran terhadap polusi udara merupakan yang tertinggi (61%) di antara 12 kota, di mana secara khusus “polusi udara dari gas buang, kebakaran hutan, dll.” menduduki peringkat tinggi. Nigeria sendiri disebut memiliki jumlah kematian anak akibat pneumonia terkait polusi udara tertinggi di dunia7. Hal ini menunjukkan bahwa udara tidak hanya penting untuk kenyamanan hidup, tetapi juga sangat krusial untuk melindungi keselamatan jiwa.

*6 Responden diminta untuk mendaftarkan tiga “kekhawatiran terkait udara dalam kehidupan sehari-hari” teratas, dan hasilnya diurutkan berdasarkan rata-rata tertimbang (weighted average) dengan memberikan nilai bobot pada tingkat tertinggi (3 poin), kedua tertinggi (2 poin), dan ketiga tertinggi (1 poin).

*7 UNICEF

https://www.unicef.org/nigeria/press-releases/nigeria-has-highest-number-air-pollution-related-child-pneumonia-deaths-world

Mengenai Kota-Kota Subjek Survei

Cara penggunaan AC sangat bervariasi tergantung pada iklim, gaya hunian, dan faktor lainnya di setiap daerah, termasuk rata-rata suhu udara serta suhu udara tertinggi dan terendah sepanjang tahun. Dalam survei ini, kami memilih kota-kota yang disurvei dengan mempertimbangkan keseimbangan iklim dan geografis.

Garis Besar Survei (Outline of the Survey)

Pelaksana Utama Survei: Daikin Industries, Ltd.
Pelaksana Utama Survei: Kuesioner berbasis internet
Subjek survei: 100 orang berusia 20-an hingga 60-an di setiap kota yang memiliki AC di rumah
Kota Subjek dan Periode Survei: Houston (DMA Houston), AS: 24 Mei – 6 Juni 2024 New York (DMA New York), AS: 24 Mei – 6 Juni 2024 Bangkok (Greater Bangkok), Thailand: 24 Mei – 29 Mei 2024 Istanbul (Provinsi Istanbul), Turki: 30 Mei – 31 Mei 2024 Lagos, Nigeria: 24 Mei – 29 Mei 2024 Madrid (Provinsi Madrid), Spanyol: 24 Mei – 29 Mei 2024 New Delhi (Wilayah Ibu Kota Delhi), India: 24 Mei – 30 Mei 2024 Paris (Île-de-France), Prancis: 28 Mei – 29 Mei 2024 Riyadh (Provinsi Riyadh), Arab Saudi: 31 Mei – 5 Juni 2024 Sao Paulo (Negara Bagian Sao Paulo), Brasil: 24 Mei – 29 Mei 2024 Shanghai, Tiongkok: 24 Mei – 6 Juni 2024 Tokyo, Jepang: 10 Mei – 21 Mei 2024